Palu London, juga dikenal sebagai Artefak London, adalah salah satu penemuan arkeologi yang paling misterius dan menimbulkan perdebatan. Ditemukan pada tahun 1936 di dekat London, Texas, artefak ini langsung memicu rasa penasaran karena ditemukan terbungkus dalam batu yang diperkirakan berusia lebih dari 400 juta tahun. Hal ini menimbulkan pertanyaan mendasar: bagaimana mungkin sebuah palu besi, yang jelas buatan manusia, bisa terjebak dalam lapisan batuan yang begitu kuno? Apakah ini bukti adanya peradaban maju yang sudah lama hilang? Atau mungkin ini hasil dari proses geologis yang sangat jarang terjadi? Atau justru sekadar tipuan yang disengaja? Artikel ini akan mengulas berbagai teori yang mencoba menjawab misteri seputar Palu London, serta dampak penemuan ini terhadap pandangan kita tentang sejarah dan ilmu pengetahuan.
Penemuan Palu London
Pada tahun 1936, Max Hahn dan istrinya sedang berjalan-jalan di sepanjang Red Creek, Texas, ketika mereka menemukan sebuah batu dengan bentuk yang aneh. Setelah diperiksa lebih dekat, di dalam batu itu tampak bagian dari sebuah palu besi yang sebagian terbungkus dalam lapisan batuan tersebut. Gagang kayu pada palu sudah mulai mengalami proses pembatuan, sedangkan kepala palunya tetap terlihat utuh dan dalam kondisi baik. Keanehan ini segera menarik perhatian, terutama karena batu yang membungkus palu diperkirakan berasal dari zaman geologis yang sangat tua, berusia lebih dari 400 juta tahun. Penemuan ini memicu berbagai spekulasi di kalangan ilmuwan dan penggemar misteri. Bagaimana mungkin sebuah palu besi buatan manusia bisa terjebak dalam batuan kuno semacam itu? Temuan ini menjadi teka-teki besar yang menginspirasi berbagai teori, mulai dari proses geologis alami hingga gagasan tentang peradaban maju yang telah hilang atau bahkan perjalanan waktu.